Wednesday, 29 July 2015

Cerpen Kompas Dua Wajah Ibu

Dua Wajah Ibu


Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang.
Deru burung besi itu kian nyaring begitu melewati tempatnya berjongkok. Ia menghentikan gerakan tangannya. Menggiring burung itu lenyap dari mata lamurnya. Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian pakaian yang tak kunjung habis itu. Beberapa detik sekali, tangan keriputnya berhenti, lalu ia menampari pipi dan kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya saat menyadap karet nun jauh di pedalaman Sumatera-Selatan sana: Tanah Abang.
Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan segala hal. Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya, menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun.
Ia adalah Mak Inang. Belum genap satu purnama perempuan tua itu terdampar di rimba Jakarta, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan macam jamur kuping yang mengembang bila musim hujan di kebun karetnya. Hidungnya pun belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di belakang kontrakan berdinding triplek anak lanangnya. Bahkan, Mak Inang masih sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got Jakarta yang bertubuh hitam-besar lagi gemuk melebihi kucing betinanya di kampung, tiba-tiba berlarian di depan matanya.
Sesungguhnya, ia pun masih tak percaya bila terjaga dari lelapnya yang tak pernah pulas, kalau akhirnya ia menjejakkan kaki di ibu kota Jakarta yang kerap diceritakan orang-orang di kampungnya. Suatu tempat yang sangat asing, aneh, dan begitu menakjubkan dalam cerita Mak Rifah, Mak Sangkut, dan beberapa perempuan kampung karibnya, lepas perempuan-perempuan itu mengunjungi anak bujang atau pun gadis mereka. Sesuatu yang terdengar seperti surganya dunia. Serba mewah, serba manis, serba tak bisa ia bayangkan.
”Kesinilah, Mak. Tengoklah anak lanangku, cucu bujang Emak. Parasnya rupawan mirip almarhum Ebak,” itulah suara Jamal kepadanya beberapa pekan silam. Suara anak lanangnya yang kemerosok seperti radio tua, ia pun melipat kening saat mengetahui suara itu berasal dari benda aneh di genggamannya.
”Dengan siapa Mak ke situ?” lontarnya. Ada keinginan yang menyeruak seketika di dada Mak Inang. Keinginan yang sejatinya sudah lama terpendam. Telah lama ia ingin melihat Jakarta. Ibu kota yang telah dikunjungi karib-karibnya. Tapi, ia selalu tak punya alasan ke sana, walau anak lanangnya, yang cuma satu-satunya ia miliki selain dua gadisnya yang telah diboyong suami mereka di kampung sebelah, merantau ke kota itu. Belum pernah Jamal menawarinya ke sana. Tak heran, ketika petang itu Jamal memintanya datang, ia lekas-lekas menanggapinya.
”Tanyai Kurti, Mak. Kapan ia balik? Masalah ongkos, Mak pakai duit Emak dululah. Nanti, bila aku sudah gajian, Emak kuongkosi pulang dan kukembalikan ongkos Emak ke sini,” itulah janji anak lanangnya sebelum mengakhiri pembicaraan. Suara kemerosok seperti radio tua itu terputus.
Mak Inang kembali menghela napas saat ingat percakapan lewat hape dengan anak lanangnya itu. Beberapa pekan sebelum ia merasa telah tersesat di rimba Jakarta, di semak-belukar kontrakan yang bergot bau menyengat. Ia melepas tuas pompa, air berhenti mengalir. Tangannya menjangkau cucian, membilasnya.
***
Kota yang panas. Itulah kesan pertama Mak Inang saat mata lamurnya menggerayangi terminal bus Kampung Rambutan. Sedetik kemudian, ia menambahkan kesan pertamanya itu: Kota bacin dan berbau pesing. Hidung tuanya demikian menderita ketika membaui bau tak sedap itu. Hatinya bertanya-tanya heran melihat Kurti demikian menikmati bau itu. Hidung pesek gadis berkulit sawo matang itu tetap saja mengembang-embang, seolah-olah bau yang membuat perut Mak Inang mual itu tercium melati.
Belum jua hilang rasa penat dan pusing di kepala Mak Inang, apalagi rasa pedas di bokongnya, karena duduk sehari-semalam di bus reot yang berjalan macam keong, beberapa orang telah berebut mengerubungi dirinya dan Kurti, macam lalat, berdengung-dengung. Mak Inang memijit keningnya. Cupingnya pun ikut pening dengan orang-orang yang berbicara tak jelas pada Kurti, gadis itu diam tak menggubris, hanya menyeret Mak Inang pergi.
Mak Inang kembali memeras beberapa popok yang ia cuci, sekaligus. Telapak kaki kanannya yang kapalan cepat-cepat menampari betis kirinya begitu beberapa nyamuk membabi-buta di kulit keringnya. Ia menghempaskan popok yang sudah diperasnya itu ke dalam ember plastik. Jemari tangannya menggaruk-garuk betis kirinya. Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya. Ia menggeram. Hatinya menyumpah-serapah kepada binatang laknat tak tahu diri itu.
Dua-tiga hari pertama, Mak Inang cukup senang berada di rumah berdinding batu setengah triplek Jamal. Rasa senangnya itu bersumber dari cucu bujangnya yang masih merah itu. Walau, sesungguhnya Mak Inang terkaget-kaget saat Kurti mengantarnya ke rumah Jamal. Semua di luar otak tuanya. Dalam benaknya yang mulai ringkih, Jamal berada di rumah-rumah beton yang diceritakan Mak Sangkut, bukan di rumah kecil sepengap ini. Keterkejutannya kian bertambah saat perutnya melilit di subuh buta. Hanya ada satu kakus untuk berderet-deret kontrakan itu. Itu pun baunya sangat memualkan. Hampir saja Mak Inang tak mampu menahannya.
”Mak hendak pulang, Mal. Sudah seminggu, nanti pisang Emak ditebang orang, karet pun sayang tak disadap,” lontar Mak Inang di pagi yang tak bisa ia tahan lagi. Ia benar-benar tak ingin berlama-lama di ibu kota yang sungguh aneh baginya. Sesungguhnya, Mak Inang pun aneh dengan orang-orang yang saban hari, saban minggu, saban bulan, dan saban tahun datang mengadu nasib ke kota ini. Apa yang mereka cari di rimba bernyamuk ganas, berbau bacin, bertikus besar melebihi kucing ini? Mak Inang tak bisa menghabiskan pikiran itu pada sebuah jawaban.
”Akhir bulanlah, Mak. Aku gajian saban akhir bulan, sekarang tengah bulan. Tak bisa. Pabrik juga tengah banyak order, belum bisa aku kawani Mak jalan-jalan mutar Jakarta,” ujar Jamal sembari menyeruput kopi hitam dan mengunyah rebusan singkong. Singkong yang Mak Inang bawa seminggu silam. Mak Inang tak bersuara. Hatinya terasa terperas dengan rasa yang kian membuatnya tak nyaman.
”Kurti libur hari ini, Mak. Katanya tengah tak ada lembur di pabriknya. Nanti kuminta ia mengawani Mak jalan-jalan. Ke mal, ke rumah anak Wak Sangkut dan Wak Rifah,” terdengar suara Mai, menantunya, dari arah dapur yang pengap.
Mak Inang mengukir senyum semringah mendengar itu. Rasa tak nyaman yang menggiring keinginannya untuk pulang mendadak menguap. Kembali cerita Mak Rifah dan Mak Sangkut tentang Jakarta mengelindap. Gegas sekali perempuan tua itu menyalin baju dan menggedor-gedor pintu kontrakan Kurti. Gadis itu membuka pintu dengan mata merah-sembab, muka awut-awutan dengan rambut yang kusut-masai. Mak Inang tak peduli mata mengantuk Kurti, ia menggiring gadis itu untuk lekas mandi dan menemaninya keliling Jakarta, melihat rupa wajah ibu kota yang selama ini hanya ada dalam cerita karib sebaya dan pikirannya saja.
Serupa kali pertama Kurti mengantarnya ke muka kontrakan anak lanangnya, seperti itulah keterkejutan Mak Inang saat menjejakkan kaki di kontrakan anak Mak Sangkut dan Mak Rifah. Tak jauh berupa, tak ada berbeda. Kontrakan anak karib-karibnya itu pun sama-sama pengap dan panas. Hal yang membuat Mak Inang meremangkan kuduknya, gundukan sampah berlalat hijau dengan dengungan keras, bau menyengat, tertumpuk hanya beberapa puluh meter saja. Kepala Mak Inang berdenyut-denyut melihat itu. Lebih-lebih saat menghempaskan pantatnya di lantai semen anaknya Mak Sangkut. Allahurobbi, alangkah banyak cucu Mak Sangkut, menyempal macam rayap. Berteriak, menangis, merengek minta jajan, dan tingkah pola yang membuat Mak Inang hendak mati rasa. Hanya setengah jam Mak Inang dan Kurti di rumah itu, berselang-seling cucunya Mak Sangkut itu menangis.
Kebingungan Mak Inang pada orang-orang yang saban waktu datang ke Jakarta untuk mengadu nasib kian besar saja. Apa hal yang membuat mereka tergoda ke kota bacin lagi pesing ini? Segala apa yang ia lihat satu-dua pekan ini, tak ada yang membuat hatinya mengembang penuh bunga. Lebih elok tinggal di kampung, menggarap huma, membajak sawah, mengalirkan getah-getah karet dari pokoknya, batin Mak Inang.
***
Tangan Mak Inang kembali menekan-nekan tuas pompa, air keruh dengan bau karet yang menyengat kembali berjatuhan ke dalam bak plastik. Kadang besar, kadang kecil, seiring dengan tenaganya yang timbul tenggelam. Lagi, Mak Inang membilas cucian pakaian cucu, menantu, anak lanang, dan dirinya sendiri. Mendadak Mak Inang telah merasa dirinya serupa babu. Di petang temaram bernyamuk ganas, ia masih berkubang dengan cucian. Di kampung, waktu-waktu serupa ini, ia telah bertelekung dan gegas membawa kakinya ke mushola, mendahului muadzin yang sebentar lagi mengumandangkan adzan.
Lampu benderang. Serentak. Seperti telah berkongsi sebelumnya. Berkelip-kelip macam kunang-kunang di malam kelam. Lagi, terdengar suara desingan tajam di atas ubun-ubun Mak Inang. Ia pun kembali mendongakkan wajah, mata lamurnya melihat lampu merah, kuning, hijau berkelip-kelip di langit temaram. Nyamuk-nyamuk pun kian ganas dan membabi-buta menyerang kulit keringnya.
Wajah Mak Inang kian mengelap, hatinya menghitung-hitung angka di almanak dalam benak. Berapa hari lagi menuju akhir bulan? Rasa-rasanya, telah seabad Mak Inang melihat muka Jakarta yang di luar dugaannya. Benak Mak Inang pun hendak bertanya: Mengapa kau tak pulang saja, Mal? Ajak anak-binimu di kampung saja. Bersama Emak, menyadap karet, dan merawat limas. Tapi, mulut Mak Inang terkunci rapat.
Malam di langit ibu kota merangkak bersama muka Mak Inang yang terkesiap karena seekor tikus got hitam besar mendadak berlari di depannya. Keterkejutan Mak Inang disudahi suara adzan dari televisi. Perempuan itu kembali menekan tuas sumur pompa, air mengalir, jatuh ke dalam ember plastik. Ia membasuh muka tuanya dengan wudhu. Bersamaan dengan itu, mendadak gerimis turun, seolah ibu kota pun hendak mencuci muka kotornya dengan wudhu bersama Mak Inang. Muka tua yang telah keriput, mengkerut, dan carut-marut.

 repost : https://cerpenkompas.wordpress.com/2012/08/05/dua-wajah-ibu/#more-1623

Sunday, 16 November 2014


video ulang tahun romantis :)
https://www.youtube.com/watch?v=ODAHkiX4rdk

Cerpen "Sepertiga Malam Terakhir"

Sepertiga Malam Terakhir
Sepertiga Malam Terakhir ilustrasi Pata Areadi
Cerpen Sungging Raga (Media Indonesia, 21 September 2014)
DI sepertiga malam terakhir itu, Dirminto masih duduk di belakang rumahnya. Ia sedang termenung memandangi langit. “Benarkah Tuhan turun di saat-saat seperti ini?”
Sambil mengisap rokoknya,Dirminto memperhatikan rembulan yang gersang, yang kadang dilewati awan tipis, tapi kemudian lengang kembali. Di sekeliling rembulan ada bintang-bintang yang pendiam, sebagian berkedip, sebagian lagi bersinar cukup terang. Lelaki itu lantas melangkah masuk ke rumahnya yang sempit, istrinya ternyata sudah bangun, sibuk melipat baju-baju. Sementara itu, dua anak gadisnya masih terlelap di atas tikar, Manisha yang berusia empat tahun, dan Nalea tujuh tahun.
“Kamu tidak tidur semalaman?” tanya istrinya.
“Mana bisa aku tidur, sementara besok kita tak tahu harus pergi ke mana,” jawab Dirminto.
Di rumah yang dindingnya berupa kayu dan tripleks itu, kesunyian begitu cepat merasuk. Tak lama kemudian, terdengar sayup-sayup suara azan subuh di surau yang jauh, terasa sangat jauh seperti masa lalu.
“Tuhan sudah kembali ke langit,” gumam Dirminto.
“Apa?” tanya istrinya.
“Eh, tidak apa-apa.” Dirminto terkejut sendiri. Ia tak tahu bagaimana bisa memikirkan semua itu, setelah seluruh kepahitan hidup dilaluinya begitu saja, mengapa ia harus terngiang kalimat yang beberapa hari lalu diucapkan oleh anak gadisnya?
“Kata ustaz di surau tempat Nalea mengaji, Tuhan turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir. Dia akan mengabulkan doa siapa saja yang berdoa.” Begitu Nalea pernah berkata. “Kalau Nalea bangun, Nalea juga mau berdoa ya, Pak.”
Dirminto tersenyum. “Ustaz itu pasti telah mengajarimu banyak hal Nalea,” kata lelaki itu sambil membelai rambut anaknya.
Ah, tapi sekarang, Nalea dan adiknya, Manisha, harus segera dibangunkan. Perlahan Dirminto mencubit tangan kedua anaknya agar mereka terjaga dari kesunyian pagi dan mimpi-mimpi yang menggigil. Angin sesekali menembus dari arah jendela berbingkai kayu. Cahaya matahari terbiasa masuk lewat celah-celah itu. Istrinya sudah memasukkan pakaian ke dalam tas. Kedua anak kecil itu pun terjaga, mengusap wajahnya.
“Ayo cepat mandi dan siap-siap. Kita pergi sekarang!” kata Dirminto pada kedua anaknya, terutama kepada Nalea, yang tentu telah mengerti setiap ucapannya.
***
Pagi hari, ketika warga permukiman Ensifera telah berkumpul untuk melawan rencana penggusuran itu, Dirminto justru telah siap untuk pergi. Istrinya menggendong Manisha, sementara Dirminto memanggul sebuah tas sambil menggandeng tangan Nalea. Melihat hal itu, para tetangganya menjadi heran.
“Kau ini bagaimana, bukannya memperjuangkan hak kita, malah berkemas seperti itu.”
“Maaf Pak Pri, aku hanya tidak mau anak dan istriku trauma melihat orang-orang berseragam itu.”
“Jadi kau mau membiarkan mereka menghancurkan tempat yang sudah kita huni bertahun-tahun begitu saja?”
Dirminto termenung. Dalam cerita pendek ini, ia memang terlalu banyak termenung. Dirminto sudah tahu, sejak dahulu, alur penggusuran akan selalu seperti ini: protes warga, tangisan, bersitegang dengan aparat, tapi pada akhirnya alat-alat berat tetap muncul, lalu mulailah terdengar suara bangunan rubuh yang diiringi teriakan histeris, ibu-ibu pingsan, anak-anak menangis dalam pelukan, kamera wartawan sibuk mencari gambar terbaik.
Dirminto tak mau keluarga kecilnya, terutama Nalea, yang di usia sekarang sedang gemar-gemarnya mengingat dan mempelajari banyak hal, merekam kejadian semacam penggusuran. Ia lantas menyerahkan kunci pada lelaki bernama Pak Pri tadi.
“Kalau memang rumah ini digusur, ya biarlah, kami akan cari tempat lain.”
“Kau pengecut!” kata warga yang lain.
“Pergilah sejauh-jauhnya!”
Dirminto mulai berjalan, memanggul tas, menggamit tangan Nalea. Sementara istrinya ikut di belakangnya. Mereka meninggalkan rumah kumuh yang telah ditempati selama lebih dari sepuluh tahun itu.
Tak lama Dirminto berjalan, di perempatan yang mulai ramai itu, mereka melihat rombongan petugas yang hendak melakukan penggusuran, petugas itu diangkut beberapa mobil, juga ada alat berat yang ikut di belakang iring-iringan tersebut.
Dirminto cepat-cepat berlalu, ia tak mau Nalea melihat pemandangan itu.
“Kita mau ke mana, Pak?” tanya gadis kecil itu.
“Ke rumah yang baru.”
“Di mana?”
“Di… sana.” Dirminto asal menunjuk saja. Padahal ia belum punya bayangan apa-apa.
Satu jam berjalan kaki, mereka disambut hujan. Mereka lantas berteduh beberapa kali, di depan warung yang masih tutup, di kolong jembatan, hingga akhirnya hujan reda dan mereka beristirahat di sebuah halte yang sepi, ada coretan-coretan jorok pada dindingnya, poster-poster yang telah mengelupas, juga atap yang berlubang di sana-sini. Di situ hanya ada seorang lelaki yang sepertinya sedang menunggu mobil angkutan.
“Aku mau ke warung di seberang itu untuk beli nasi,” kata istrinya. Wanita itu lantas menyeberang sambil tetap menggendong Manisha, sementara Dirminto dan Nalea menunggu di halte.
“Pak, apa benar kita digusur? Tidak bisa kembali ke rumah?” Tanya Nalea.
“Benar, Nalea. Itu bukan rumah kita lagi. Kita harus cari tempat di kota lain.”
“Apa semua orang di kota ini begitu jahat pada kita?”
Dirminto termenung lagi. Lelaki asing yang sedang menunggu angkutan rupanya mendengar percakapan tersebut.
“Apa Anda baru saja kena musibah?” tanya lelaki itu.
“Ya.”
Lelaki itu melihat beberapa tas dan kantong plastik. “Oh, penggusuran Ensifera yang tadi masuk televisi?”
“Eh, masuk televisi?” Dirminto jadi heran. Secepat itukah tempat tinggalnya diliput?
“Wah. Jauh sekali Anda berjalan, sudah sampai sini.”
Dirminto memang tidak sadar sejauh apa perjalanannya, ia hanya berjalan tanpa tujuan, mungkin sebagai lelaki, ia sudah biasa berjalan, tapi kalau ingat istrinya dan Nalea, ia tak bisa membayangkan betapa lelahnya mereka berdua, sementara Manisha tetap dalam gendongan, kadang menangis entah karena apa.
“Berdoalah kepada Tuhan,” kata lelaki itu lagi.
Dirminto terkejut. Ia lalu menggeleng. “Untuk apa?”
“Berdoalah. Kalau Anda merasa dianiaya, Anda bisa berdoa apa saja untuk mereka. Itu pun kalau Anda mau.”
Dirminto seperti ingin tertawa. Akhirnya ia benar-benar tertawa. “Tidak ada gunanya. Tuhan sudah lama tidak menolong kami,” jawab Dirminto. “Kalau Tuhan menolong kami atau membalas perbuatan mereka, seharusnya keadaan tidak seperti sekarang ini.”
“Jangan begitu. Jika Anda tak percaya lagi kepada Tuhan, lalu kepada siapa lagi Anda mengharapkan pertolongan?”
“Sudahlah, sebaiknya Anda tidak perlu berceramah, itu ada bus datang.” Ucapan Dirminto sedikit ketus, ia lalu bangkit dan mengajak Nalea menyeberang jalan, menuju warung di mana istrinya sudah keluar membawa plastik berisi nasi dan lauk. Mereka melanjutkan perjalanan.
***
Malam harinya, sekitar pukul delapan, mereka tiba di sebuah perbukitan yang sepi, Dirminto menemukan sebuah lahan rumput yang cukup luas. Dari bukit ini, ia bisa melihat seluruh kota Wintersia. Ternyata benar, permukiman Ensifera sudah jauh sekali.
“Kita bermalam di sini,” kata Dirminto sambil menggelar tikar dan selimut. Setelah meletakkan tas, istri dan kedua anaknya begitu cepat merebahkan diri dan terlelap, tentu karena lelah sekali. Sementara Dirminto sedikit menjauh, ia menyalakan rokoknya, duduk memandangi kota di kejauhan.
Di manakah rumah? Di manakah masa depan? Dari bukit ini hanya terlihat kota yang gemerlap, kota yang telah mengusirnya. Matanya menangkap lanskap gedung-gedung, sungai yang diapit pemukiman, lampu-lampu, papan reklame bercahaya. Dan, akhirnya rasa kantuk itu pun menumbangkannya. Dirminto lantas tertidur begitu saja di atas rumput.
Namun, di sepertiga malam terakhir, tiba-tiba ia terjaga karena suara ribut dari jauh. Sambil menahan kantuk, Dirminto membuka matanya, bangkit, lalu terkejut bukan kepalang.
Dari atas bukit itu ia melihat seluruh kota terbakar, seluruhnya, gedung-gedung tinggi nan megah itu, tiba-tiba menjelma batang-batang merah raksasa, jeritan demi jeritan membahana, suara mobil pemadam kebakaran dan ambulans saling bersahutan. Kekuatan macam apa yang bisa membuat seluruh bangunan di kota Wintersia bisa terbakar secara bersamaan? Ini mustahil. Dirminto bagai sedang melihat sulap yang tidak mungkin, tapi tatkala ia menoleh ke belakang, ia lebih terkejut lagi ketika melihat Nalea, anak gadisnya, ternyata tidak tidur. Di sepertiga malam terakhir itu, Nalea sedang duduk menangis, sambil mengangkat kedua tangannya ke langit.
Seperti sedang mendoakan sesuatu yang begitu cepat dikabulkan. (*)
Sungging Raga, tinggal di Situbondo, Jawa Timur. Banyak menulis fiksi.